[Review Anime] One Piece Film Red – Idol Bertemu Bajak Laut?

24 views


One Piece Film Red ialah entri terbaru film One Piece yang akan tayang di Indonesia secara reguler pada hari Rabu tanggal 21 September 2022. Salah satu tim Titip Jepang kebetulan berkesempatan untuk menonton Fan’s Screening pada tanggal 17 kemarin. Titipers mampu baca keseruan Fan’s Screening tempo hari di sini. Kali ini penulis akan mencoba untuk menyajikan review film One Piece Film Red, sebuah persembahan luar biasa dari Toei Animation dan Eiichiro Oda.

 JALAN CERITA DAN DAYA TARIK UTAMA 

Sinopsis resmi One Piece Film Red:

Uta — penyanyi paling dicintai di dunia. Suaranya menyembunyikan identitas Uta sebenarnya, yang digambarkan sebagai “dunia lain.” Dia akan tampil di depan umum untuk pertama kalinya di konser live. Ketika venue dipenuhi dengan semua penggemar Uta — bajak laut yang bersemangat, Angkatan Bahari yang mengawasi dengan cermat, dan Topi Jerami yang digunakan Luffy yang datang untuk menikmati penampilan anggunnya bunyi yang telah ditunggu-tunggu sampai membuat seluruh dunia akan segera bergema. Dari sini kisah Luffy berjalan menjadi sesuatu yang mengejutkan. 

Daya tarik utama dari film ini tidak mampu disangkal datang dari judulnya, RED. Penulis sendiri awalnya sangat skeptis jika film ini hanya akan sekedar gimmick Shanks, sebab Uta diperkenalkan sebagai “anak” dari Shanks, salah satu bajak laut paling berpengaruh di lautan dengan bounty miliaran. Nir berhenti di situ, Uta juga ialah sahabat sepermainan Luffy di masa kecil saat Bajak Bahari Rambut Merah acapkali berkunjung ke Desa Fuusha, desa kelahiran Luffy. Sebab itu penting untuk menonton One Piece episode 1029 dan 1030 yang bertindak sebagai prolog film ini. Titipers mampu menontonnya dengan gratis di BStation secara legal.

Relasi dinamis antar tiga karakter ini yang menjadi jualan utama dan untungnya dieksekusi dengan sangat baik. Shanks bukan hanya karakter yang muncul sebagai gimmick, dia menjadi latar belakang kisah ini bermula dan berperan aktif untuk mengakhirinya. Uta punya relevansi besar dan motivasi “kuat” dalam cerita. Luffy sebagai tokoh utama bertindak sebagaimana Luffy yang biasanya, ingin “menyelamatkan” temannya. Di One Piece, karakterisasi Luffy ialah yang terkuat saat dia punya urgensi untuk menyelamatkan orang. Film ini berhasil menyorot hal itu dengan sangat baik tanpa ada kesan dipaksakan, hal yang abstain di film-film One Piece sebelumnya, kecuali Strong World.

 ELEMEN ONE PIECE DONE RIGHT 

Penulis berpendapat ramuan One Piece yang paling kuat saat mengisahkan suatu arc terdiri dari empat hal, karakter, humor, aksi dan suasana haru. Film ini berhasil meramu semua hal di atas dengan berimbang, hal yang sekali lagi, acapkali kali alpa di film-film One Piece sebelumnya.

Karakter yang muncul di film ini sangat banyak, sebab skala penceritaannya ada di level global. Hampir semua kubu yang ada di One Piece muncul, Angkatan Bahari, Pemerintah Global, dan Bajak Bahari, yang tidak muncul hanya Pasukan Revolusi, yang mana memang mereka tidak perlu muncul sebab tidak ada relevansinya dalam cerita. Pada ketika Stampede, sejujurnya variasi karakter yang muncul jauh lebih banyak, tapi kesan “tempelan” dan “gimmick” sangat kuat, sehingga kemunculan mereka hanya sekedar keharusan alih-alih kepentingan cerita. Berbeda dengan RED, film ini menawarkan semua kubu penampilan setara, mereka muncul untuk melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan narasi besar kisahnya dan menerima perlakuan yang layak. Mirip Brulle dari Bajak Bahari Big Mom, Blueno dari CP-0 dan Koby dari Angkatan Bahari, kemunculan mereka punya peran sangat penting yang tidak mampu digantikan karakter lain. Pun film ini tidak melupakan relasi karakter-karakter yang muncul dengan kru Topi Jerami, menjadikan interaksi mereka saat bertemu terasa made sense dan mengisi celah humor untuk film ini dengan sangat brilian.

Aksinya juga digambarkan dengan keren, ada beberapa kali pertarungan yang muncul dalam film ini, dan semuanya well executed, hal yang sebenarnya biasa di film One Piece. Semua film One Piece selalu punya adegan-adegan aksi bombastis keren dan ini bukanlah hal baru. Hanya saja, kenapa RED jadi spesial, sebab untuk pertama kalinya kita diperlihatkan Shanks dan krunya bertarung, meski sebentar tapi mereka benar-benar unjuk gigi. Seakan menguatkan alasan kenapa dia ialah salah satu sosok paling ditakuti di lautan.

Elemen haru ialah elemen yang membuat One Piece menjadi franchise raksasa. Siapa yang tidak menangis saat penguburan Going Merry? Siapa yang tidak marah saat Ace mati? Siapa yang tidak ikut depresi melihat usaha Vivi menyelamatkan Alabasta? Semua franchise besar wajib punya elemen ini, katakanlah Kimetsu no Yaiba: Mugen Train yang menjadi film anime dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa di Jepang, yang isi filmnya sangat-sangat mengharukan hingga ditangisi jutaan orang. RED juga mirip itu, ada berbagai adegan-adegan mengharukan yang ditunjang dengan lagu-lagu luar biasa yang dibawakan Uta. Rasa haru yang muncul di RED bukanlah rasa haru yang dipaksakan, tapi selaras dengan narasi yang pelan-pelan dibangun dari awal, jadi saat meledak di akhir, bahkan penulis pun hingga menitikkan air mata bersama puluhan orang lainnya di bioskop. Mbak-mbak dan mas-mas di samping penulis juga terindikasi beberapa kali sesengukan.

 UTA DAN LAGU 

Semenjak awal pengumuman jika RED akan segera diproduksi, Oda-sensei sudah bilang jika dia capek menulis sosok orang-orang tua, dia ingin menulis heroine! Ilustrasi awal film ini juga menawarkan siluet Uta dan mengindikasikan film ini akan menjadi film dengan idol sebagai heroine-nya. Penulis awalnya sangat skeptis, merasa jika Uta akan menjadi mirip karakter-karakter khusus film lain yang punya karakterisasi dangkal (Tesoro, Bullet). Syukurlah anggapan itu dipatahkan dengan rupawan olah Oda-sensei. Uta bukanlah villain, Uta ialah heroine, sebagaimana yang dari awal diinginkan oleh Oda-sensei. Uta memiliki latar belakang kisah yang kuat sebagai “anak” Shanks dan film ini benar-benar menunjukkannya dengan baik, bukan hanya dengan Shanks tapi juga relasi Uta dengan kru Bajak Bahari Rambut Merah. Uta memiliki relasi rivalitas pertemanan hangat dengan Luffy yang sangat mengidolakan Shanks. Film ini berhasil membuat Uta memiliki karakterisasi kuat dengan dua hal yang disebutkan tadi. Rendezvous mereka bertiga terasa sangat hangat dan juga haru. Pilihan-pilihan yang diambil Uta dalam film ini ialah konsekuensi logis dari hal-hal yang pernah terjadi di masa lalunya. Dan sebab pendekatan yang dipakai bukanlah “power” layaknya film-film sebelumnya, RED jadi lebih berhasil menyentuh hati penonton.

Lagu-lagu di film ini juga sebenarnya kelewat banyak. Mungkin akan banyak yang protes sebab menonton film ini terasa mirip konser sebab lagunya yang banyak dan penuh. Tapi kan memang di film ini Uta sedang mengadakan konser akbar, dan lagu ialah hal yang menjadi tema besar film ini. Jadi penulis rasa ini bukanlah persoalan, malahan menunjang adegan-adegan tarung dan haru dengan lagu-lagu yang disajikan. Umumnya, sebuah film menjadikan insert song sebagai penunjang adegan dramatis. RED memperlakukann lagu-lagu Uta sebagai “karakter”, lagu-lagu di film ini menjadi bagian penting dalam kisah alih-alih hanya sekedar penunjang adegan dramatis mirip insert song pada umumnya. Jadi pastikan Titipers sudah familiar dengan lagunya ya sebelum menonton. Playlist resmi lagu-lagu Uta mampu diakses di sini. Banyaknya lagu ini juga menjadikan film ini layak tonton berulang-ulang, yang secara tidak eksklusif membuat pendapatannya melonjak drastis.

Review One Piece Film Red

 REFLEKSI KEHIDUPAN NYATA 

Uta ialah perwujudan influencer went bad. Kita hidup di dunia di mana menjadi influencer benar-benar hal yang mampu mengubah kehidupan seseorang, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Jika meminjam bahasa dunia kita, Uta ialah influencer youtube. Dia seorang penyanyi youtube yang lagunya menyentuh banyak orang, dia menjadi oase akan kehidupan berat yang dilalui banyak orang. Dalam kasus Uta, menjadi simbol kebencian terhadap bajak laut. Uta merasa perlu menjawab permintaan fans, merasa perlu menyelamatkan fans sehingga terjadilah kejadian dalam One Piece Film Red ini.

Refleksi terhadap beban yang ditanggung influencer (dalam hal ini Uta) terhadap ekspektasi follower atau fans inilah biang persoalan yang juga dialami banyak orang di dunia nyata. Film ini dengan sangat cerdas menyentuh berita ini, seakan-akan menawarkan betapa destruktifnya dunia maya jika tidak disikapi dengan bijak. Betapa kebahagiaan semu itu mampu menipu dan malah menghancurkan tidak cuma influencer-nya sendiri, tapi juga para follower atau fans mereka. Betapa tidak bijaknya memilih untuk lari ke dunia maya alih-alih menghadapi kenyataan, mirip yang secara tersirat dilakukan oleh Uta di film ini.

 WORTH IT OR SKIP IT? 

Tentu saja layak tonton! Jangan lupa segera tonton di bioksop-bioskop terdekat begitu tayang di kota Titipers ya! Film ini sungguh pantas sebagai sajian film One Piece terbaru, menghibur tapi juga menawarkan sedikit banyak refleksi di kehidupan nyata. Sahih-benar film One Piece yang One Piece banget! Penulis sendiri habis nonton eksklusif dapat waifu baru! U-T-A! U-T-A! PRINCESS UTA!
Semoga review One Piece Film Red ini mampu membantu Titipers ya, ^^

Ikuti terus isu terbaru dari kanal-kanal Titip Jepang! Yuk, baca artikel lainnya di sini^^

Jangan lupa Ikuti juga media umum Titip Jepang:
Instagram: @Immaku.com
Twitter: @Immaku.com
Facebook: Titip Jepang





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.